• header
  • header
  • alaskapala
  • inkai sman 1 cipari

Selamat Datang di Website SMA NEGERI 1 CIPARI | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 CIPARI

NPSN : 11111111

Jl.MT.Haryono 04 Cipari Cilacap Telp.0280-6226190


info@sman1cipari.sch.id

TLP : 0265656565


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 131597
Pengunjung : 39834
Hari ini : 30
Hits hari ini : 61
Member Online : 9
IP : 54.198.86.28
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • Drs BAMBANG SETIAWAN MM (Guru)
    2017-05-04 09:05:37

    Semat dan semoga sukses selalu buat anak-anak ku kelas XII SMAN 1 Cipari yang telah selesai menempuh pendidikan di SMA. Semoga semuan...
  • DARTO S.Pd (Guru)
    2017-03-20 14:09:03

    Apa yang Anda pikirkan?
  • JUMI ANAWATI S.Psi (Guru)
    2016-09-01 15:18:00

    1|2
  • JUMI ANAWATI S.Psi (Guru)
    2016-09-01 15:16:10

    1|1
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2016-03-23 12:41:19

    keadilan yang tertunda atau terlupakan?
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2015-12-10 08:40:54

    Prepare buat bikin wadah kreatifitas siswa...
  • Drs BAMBANG SETIAWAN MM (Guru)
    2015-11-21 17:31:57

    Kebenaran itu akan semakin rumit jika ketakbenaran yang dibenarkan............
  • SALMIZAN S.Pd (Guru)
    2015-11-04 18:35:37

    Apa yang Anda pikirkan?
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2015-11-04 12:32:18

    cipari menunggu hujan........

Menumbuhkan Idealisme




Secara kasat mata, Kerajaan Romawi Timur saat itu terlampau perkasa. Kerajaan besar yang telah berpengalaman 11 abad memperkokoh kekuatan dan kepongahannya, rasanya tak mungkin dapat ditumbangkan. Namun, pasukan Islam di bawah kendali Muhammad Al Fatih, pemuda 21 tahun, mampu merangsek dan mendobrak tangguhnya benteng Konstantinopel untuk selanjutnya menundukkan Romawi. Keberhasilan Al Fatih bukan tanpa sebab. Sososk Al Fatih adalah narasi panjang yang dibentuk oleh lingkungan dan terutama orang tuanya. Al Fatih kecil yang kemudian tumbuh menjadi pemuda dewasa  terbangun idealismenya melalui mimpi besar bahwa sesulit apapun kebenaran dapat diperjuangkan.

 

 

Tiga abad lebih masyarakat Indonesia dipaksa tidur pulas oleh penjajah. Didukung persenjataan yang jauh lebih modern dan perencanaan yang sistematis, penjajah asing telah membunuh mimpi dan menenggelamkan idealisme sebagian besar rakyat Indonesia saat itu. Namun, ternyata masih ada sosok tangguh yang berani bermimpi tentang indahnya hidup berbangsa dan bernegara tanpa cengkeraman penjajah. Sederetan nama seperti Teuku Umar, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Bung Tomo, Jendral Soedirman –dan pejuang yang lain adalah orang-orang yang telah teruji bertaruh nyawa mewujudkan idealisme dan mimpi besar untuk Indonesia merdeka.  Idealisme mereka benar-benar telah mampu mengubur kepentingan pribadi sehingga mereka  jauh dari sikap pragmatis  yang mengarah pada kelezatan sesaat.

 

 

Banyaknya korupsi di berbagai instansi atau organisasi dan pencurian harta rakyat  yang  dilakukan oleh oknum pejabat, terjadi karena keringnya nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan kita. Banyak pihak tidak berminat menjadi pewaris nilai-nilai kepahlawanan. Padahal, para pejuang terdahulu telah mencontohkan karakter kepahlawanan yaitu kerelaan untuk berjuang menebarkan kebenaran. Para pahlawan adalah sehebat-hebat orang yang telah mencontohkan diri sebagai orang yang telah berhasil membangun karakter diri, beridealisme dan membuang jauh sikap pragmatis.

 

 

Orang yang telah terbangun mimpi idealismenya tidak mudah ditundukan oleh bujuk rayu dan mewahnya fasilitas jabatan. Ia terus melangkah meski rintang kian tak berjarak. Ia terus impikan sampai kebenaran dapat disematkan. Sebaliknya, pelaku pragmatisme adalah orang-orang yang haus akan damai sesaat. Untuk tujuan itu, ia bahkan rela menikam sahabat terdekat dan tak jarang menjual murah kehormatan profesi atau bahkan bangsanya.

 

 

Jika mimpi membangkitkan idealisme sudah menjadi tradisi, meski awalnya sulit dan pahit, banyak pihak akan lebih bergelora untuk meraih  sukses dengan cara terhormat. Pengusaha  akan lebih semangat memanfaatkan jasa tenaga kerja domestik daripada tenaga kerja asing, karena cara itu bagian dari peningkatan skill atau profesionalisme. Guru atau para pendidik akan semangat mengajarkan dan meneladankan kepribadian serta tak mudah menyulap-nyulap nilai siswanya. Para politisi tidak mudah berargumentasi untuk membela rekan se-parpol, tapi ia lebih menggelorakan suara kebenaran. Politisi juga mestinya  malu menjadi kutu loncat, pindah dari satu parpol ke parpol lain hanya untuk mempercepat antrean posisi jabatan. Dan tentu saja, masyarakat yang telah terbangun idealismenya akan lebih bangga dan nyaman menggunakan produk sendiri, kreasi anak-anak negeri daripada produk asing.

 

 

Jadikan tempat-tempat perkuliahan, ruang-ruang kelas, lingkungan sekolah, dan sarana pendidikan yang lain sebagai tempat menyemai bibit-bibit mimpi agar generasi muda kita memiliki idealisme untuk memegang erat sebuah kebenaran.

 

 

Sidareja, 29 Maret 2018




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas